I love my Daddy to Stop Smoking MEROKOK MEMBUNUHMU
Menu Utama
Artikel Terbaru
Komentar Terbaru
Buku Tamu




 

 

Donate
image

 

 

 


FREE MEMBER
image

 

  
 
Your Name:
Your E-Mail:
Address:
City:
State:
Zip:
Country:
Where did you hear about us?
 

Nama :



Email:




 

 

Silahkan isi Nama dan Email Anda, selanjutnya Anda akan menerima Tips-Tips Unik Berhenti Merokok secara Gratis

 















 

 











 

Epy Buchary mantan Perokok Berat

image

Kemarin tanggal 31 Mei ternyata merupakan Hari Anti Tembakau Sedunia. Ini mengingatkan saya sendiri dengan ‘nasib’ dan pengalaman saya sendiri sebagai mantan perokok yang ingin saya bagi / sharing dengan mereka yang masih merokok tapi sudah punya keinginan untuk ‘quit smoking’.

Banyak tulisan-tulisan tentang bahaya merokok atau rincian kandungan bahan berbahaya yang ada di dalam asap rokok.Empat tahunan yang lalu saya sangat sebal membaca tulisan-tulisan sejenis ini. Sebal karena saya anggap cerita ini berlebihan, tapi juga sebal karena saya tidak mampu keluar dari kelompok ‘ahli hisap’ ini. atau ada juga yang memplesetkannya sebagai dewan ‘suro’ alias ‘suka rokok’ ini.

Berkali-kali saya mencoba untuk berhenti merokok dengan mengikuti berbagai metoda yang secara sangat mudah bisa dibrowsing di internet dengan kata kunci ‘stop smoking’ atau ‘quit smoking’. Gagal…gagal…..gagal lagi…., tapi akhirnya ……berhasil. Inilah yang saya ingin sharing dalam tulisan ini dengan mereka yang mungkin punya niat untuk berhenti jadi anggota dewan ‘suro’.

Saya mantan perokok (cukup) berat. Lama ‘jam terbang’ sebagai penikmat rokok : 40 tahun, dimulai dengan mengisap rokok ‘cap keris’ (sekali cabut sebatang-sebatang, karena belinya juga sebatang-sebatang); sampai terakhir menjadi penggemar rokok kretek terkenal & bergengsi : ‘DSS’ (saya rasa anda bisa menebak secara mudah merek rokok dimaksud) isi 16 batang dengan konsumsi minimal 2 bungkus sehari.

Saya berhenti total (benar-benar tidak menghisap satu hisapanpun sejak bertekad untuk berhenti), sejak hampir 4 tahun yang lalu. Beberapa kawan mengomentari : “….aaahhh baru juga 4 tahun….gua dulu brenti 6 tahun, nyatanya balik lagi ngrokok sampai sekarang….”. Saya hanya menanggapi dengan cengiran, tapi dalam hati berdoa kepada Allah untuk tetap diizinkan menjadi penikmat oksigen tanpa asap seperti sekarang ini, dan dibebaskan dari segala rutinitas sebagai seorang perokok berat (rokok & korek harus selalu tersedia dimanapun, kapanpun, dalam keadaan apapun…..).

Dengan jam terbang yang cukup lama tersebut, saya benar-benar dapat menghayati sulitnya upaya untuk menghentikan kebiasaan yang unik ini. Unik, karena di satu sisi kita dapat memahami apa yang dialami oleh paru-paru kita (dan paru-paru orang lain sebagai perokok pasif) dan apa pula konsekuensi finansialnya (kalau dikali-kalikan jumlah bungkus kali jumlah hari kali harga per bungkusnya) ; tapi….faktanya ternyata sangat sulit untuk menghentikannya.

Bagi yang senang membaca, menonton TV, atau browsing di internet, konsekuensi asap rokok dengan segala kandungannya terhadap paru-paru penghisapnya, bukanlah merupakan pengetahuan langka. Hampir semua perokok faham tentang hal ini. Jika dikatakan bahwa ini dapat berakibat pada penyakit ini dan itu (biasanya penyakit yang menakutkan seperti kanker atau impotensi bagi pria), tanggapan umum dari perokok : “Eeeleeeh…antara penyakit dan mati itu khan 2 hal yang berbeda…banyak orang nggak ngrokok khan mati juga….” diiringi dengan adu contoh dan adu argumentasi yang buntutnya…yaahh yang merokok ya tetap saja merokok.

Kalau saya dulu berargumentasi bahwa inilah satu-satunya kesenangan yang masih tersisa. Main golf nggak bisa, olahraga tinggal main tenis, travelling sudah jarang, jalan-jalan ngadem ke mall sudah males. Jadi yah inilah kesenangan hidup yang tersisa, teman setia sewaktu lapar, sewaktu haus, sewaktu kedinginan, sewaktu kepanasan, sesudah kehujanan, menunggu hujan reda, sewaktu senang, sewaktu susah, sewaktu lapar, sewaktu kenyang (atau kekenyangan), diluar WC, didalam WC (apalagi) dll, dll situasi dan kondisi. Ini argumentasi ngawur yang sering saya kemukakan kepada isteri jika dia berupaya mengingatkan.

Keberadaan ‘teman akrab’ ini dulu selalu saya bela-belain. Tengah malam selagi asyik dimuka komputer atau sedang ngobrol, kalau ‘bahan bakar’ ini putus alias habis, kalau warungpun sudah tutup, maka kendaraanpun akan dikeluarkan guna membelinya di tukang rokok yang masih buka. Antara makan sahur dan imsak akan diisi dengan aktivitas ‘mengasapi’ paru-paru ini, sebagaimana halnya juga setelah meminum air sewaktu berbuka, atau sesudah keluar pulang shalat Jumat, atau begitu keluar dari airport, dan saat-saat kritis lainnya.

Argumentasi agamais ? Kebetulan ustadz tetap di kantor saya perokok yang lebih berat dari saya. Sebelum acara pengajian rutin Rabu malam, beliau telah siap dengan 1 atau 2 bungkus DSS karena pengajian sering berlangsung sampai tengah malam.

Tapi diatas semuanya, semua perokok saya yakini sebagai orang yang berakal sehat. Mereka bukan orang ‘sesat’ yang tidak lagi bisa menggunakan akal sehatnya. Dalam keheningan malam sebelum lelap tertidur, kalau terlalu banyak merokok siangnya, akan terdengar bunyi desisan halus dari udara yang liwat lubang paru-paru yang memang sudah makin menyempit. Pada saat seperti itu secara otomatis akan terkenang si A atau si B famili, kerabat atau teman yang telah mendahului, yang sebelum menghadap Illahi harus terlebih dahulu menghadapi derita penyakit paru-paru. Di sini rasa takut itu akan timbul. Hati tidak lagi setegar ketika beradu argumentasi dengan orang yang menyarankan untuk berhenti merokok tadi.

Kalau pulang kampung ke Sumbar dan membeli ikan asap, saya sering kemudian membandingkan sang ikan yang berwarna hitam mengkilat itu dengan paru-paru saya. Proses pembuatan ikan asap adalah dengan mengalirkan asap pada susunan ikan yang akan diawetkan. Apa kemudian bedanya dengan paru-paru saya yang selama ini secara rutin telah diasapi oleh ratusan ribu batang rokok ?

Karena semua perokok adalah orang yang berakal sehat, setahu saya sejumlah besar perokok sebenarnya telah melakukan berbagai upaya untuk berhenti merokok dengan menggunakan bermacam metoda. Secara rutin saya browsing di internet artikel-artikel yang menyangkut “quit smoking” yang jumlahnya ratusan buah. Demikian juga dengan ‘success story’ dari beberapa mantan perokok. Dicoba berhenti berkali-kali dengan akhir yang sama : sesudah sekian waktu….. kemudian kembali merokok.

Sampailah pada malam ketika saya membaca tentang sebuah teori / metoda yang saya rasakan sangat logis dan layak untuk dicoba. Metoda ini secara singkat mengatakan bahwa banyak tingkah laku dan kebiasaan manusia sebenarnya dikendalikan oleh pikiran bawah sadarnya. Pikiran bawah sadar inilah yang dianggap yang bersangkutan sebagai kebenaran yang harus diikuti yang kemudian menjadi kebiasaan yang sulit untuk ditinggalkan. Saya mengaitkan statement ini dengan ‘zhan ’ atau ‘persepsi’ yang sering dibahas dalam kajian agama. Orang yang punya persepsi bahwa kalau kepalanya kena air hujan akan membuatnya sakit kepala, benar-benar akan sakit kepala sesudah kepalanya kena hujan walau sedikit. Ketakutan akan kegelapan, kuburan, hantu, atau sejumlah kebiasaan seperti menggigit kuku, sering-sering meludah, dan lain sejenisnya, sebenarnya dikendalikan oleh bawah sadar manusia. Yang bersangkutan akan merasa tidak nyaman kalau dia tidak melakukannya. Salah satu diantaranya adalah kebiasaan merokok.

Saya merenungkan metoda ini pada malam itu juga. Apakah benar bisikan bawah sadar saya yang mengatakan bahwa berhajad besar di WC, bekerja dimuka komputer, relaks sesudah makan, mengisi waktu kosong dalam menunggu sesuatu, dan beragam situasi dan kondisi sejenis lainnya yang dilakoni tanpa rokok benar-benar akan menimbulkan rasa tidak nyaman yang tidak dapat diatasi ? Padahal selama menjalankan ibadah puasa umpamanya, atau dalam perjalanan menggunakan pesawat udara, situasi ini dapat diatasi secara mudah.

Pada malam itulah pikiran saya menjadi terbuka dan menyadari sepenuhnya betapa saya selama ini benar-benar ‘disesatkan’ oleh bawah sadar ini dan menjadi budak dari benda yang bernama ‘rokok’ tersebut. Bahwa ‘manfaat’ dari rokok sebenar-benarnya tidak ada sama sekali, kalau mudharatnya sudah sangat banyak diungkapkan diberbagai buku, media, dll. Perasaan ‘diperbudak’ ini benar-benar membuat saya menjadi merasa tolol bin bodoh dihadapan diri saya sendiri malam itu.

Waktu itu saya baru membuka sebungkus rokok kesayangan DSS isi 16 batang yang sangat saya sukai. Pengetahuan bawah sadar tersebut saya nikmati sambil menikmati sang rokok tersebut. Saya kemudian membuat keputusan bersejarah bahwa mulai malam itu saya tidak lagi bersedia dikendalikan oleh pikiran bawah sadar tersebut, dan bahwa saya tidak lagi mau diperbudak oleh rokok. Saya kemudian mengambil lagi sebatang rokok tersebut untuk saya nikmati sebagai rokok terakhir yang saya hisap. Bungkus berisi sisa 14 batang itu kemudian saya bungkus dengan kantong plastik transparan, distappler, dan saya gantungkan di sebelah monitor komputer. Di bawah kaca meja makan dimana saya biasanya menyisipkan catatan penting seperti jadwal shalat, imsyakiah ramadhan, dll, kemudian saya masukkan selembar kertas menyatakan bahwa mulai 11 November 2006 saya berhenti merokok.

Pagi harinya tekad ini saya umumkan pada seisi rumah, anak-anak dan isteri saya ; bungkus rokok kenangan di dekat monitor komputer saya beritahukan pada mereka, sebagaimana halnya juga dengan catatan yang saya letakkan di bawah kaca penutup meja makan. Mereka mensupport keputusan bersejarah ini, karena sejak lama mereka telah meminta saya untuk menghentikan kebiasaan buruk ini. Saya harapkan ‘proklamasi kemerdekaan ’ ditambah dengan ‘prasasti ’ bungkus rokok terakhir serta catatan di meja makan itu akan menguatkan tekad saya dalam upaya berhenti merokok . Malu dong, kalau sudah ‘cuap-cuap’ dan pakai ‘prasasti’ segala….beberapa waktu kemudian keok, menyerah….dan kembali menjadi ‘ahli hisab’. Gengsi dong…..

Hari demi hari kemudian dilalui dengan rasa tidak nyaman. Sepanjang harikah…24 jam? Ternyata tidak separah itu. Rasa tidak nyaman hanya terasa sewaktu kita mengingat-ngingatnya. Saya tidak mengalami kondisi ‘sakaw ’ atau sejenisnya yang terasa menyiksa dan sulit untuk diatasi. Tapi ternyata inilah saat pembinaan mental baru yang menumbuhkan antusiasme baru. Saya mengasumsikan sikon saya sebagai orang yang akan naik kelas, naik level, pindah ke maqom yang lebih tinggi. Pindah dari status ‘budak’ menjadi ‘orang merdeka’ yang bermental kuat. Dan kalau pindah level atau maqom tentunya wajar jika ada perjuangan, ujian, dan cobaan. Sejauh mungkin saya mencoba untuk menikmati (enjoy) saja dengan sikon ini. Saya tidak ingin gagal, takluk kembali kepada makhluk aneh bernama ‘rokok’, yang membuat proses ini saya jalani dengan antusiasme tinggi. Saya imajinasikan (maaf bagi para perokok) bahwa ada setan yang tentunya juga makin gigih ‘berbisik’ di telinga saya.

Keajaiban kemudian memang terjadi. Hari demi hari saya kemudian mulai merasakan nikmatnya ‘kemerdekaan’ yang baru diraih. Teori bawah sadar itu makin terasa kebenarannya. Ternyata tidak merokok sambil bekerja di muka komputer, di WC, sehabis makan, dll, dll ternyata memang tidak apa-apa. Ini ‘temuanbaru’ yang sangat melegakan. Kantong bebas dari bungkus rokok dan korek merupakan kenikmatan baru, disamping efek langsung yang melegakan : batuk mulai berkurang dan paru-paru semakin hari semakin terasa nyaman dan melegakan. Sambutan positif dari lingkungan yang selama ini terganggu dengan asap yang kita produksi juga merupakan faktor peneguh semangat untuk benar-benar berhenti merokok.

Pada bulan kedua semuanya sudah kembali berjalan normal. Saya sama sekali sudah tidak punya keinginan untuk merokok, walau satu hisapanpun . Saya merasa diberkahi Allah dengan suatu kenikmatan yang amat sangat saya syukuri. Hidup terasa lebih nyaman pada setiap tarikan nafas yang dilakukan. Dulu paru-paru saya ibarat mesin Vespa yang memerlukan bensin campur. Setiap liter oksigen yang saya hirup harus dicampur dengan asap yang mengandung bermacam kandungan yang tidak baik untuk tubuh. Sekarang saya bernafas dengan ‘bensin murni’ bukan lagi campuran. Jauh di lubuk hati yang dalam, saya menyimpan rasa lega bercampur sedikit ‘bangga’ bahwa saya ternyata mampu membebaskan diri dari ‘perbudakan’ yang menjerat saya selama puluhan tahun. Saya membebaskan diri dari ‘perbudakan’ ini alhamdulillah masih dalam keadaan sehat, bukan dipaksa oleh larangan dokter akibat kondisi kesehatan yang buruk. Saya berhenti karena memang ingin berhenti : enough is enough.

Inilah cara berhenti merokok alias quit smoking alias stop smoking yang tidak ‘heboh’. Tidak perlu tusuk jarum / akupunktur, ‘rokok-rokokan’ substitusi, vitamin atau food supplement, dll, dll. Saya merasakan kebenarannya bahwa ini memang permasalahan fikiran bawah sadar yang harus dilawan dengan fikiran, akal sehat, dan persepsi (zhan) yang benar. Sangat mudah, dan…..murah.

Sekarang para perokok sudah benar-benar ’dipojokkan’ oleh masyarakat. Merokok sudah dilarang di lokasi-lokasi publik. Tempat untuk menikmati rokok sudah makin terbatas. Banyak perokok yang ingin berhenti, tapi belum apa-apa sudah merasa yakin bahwa “tidak mungkin akan bisa berhenti” . Inilah pikiran bawah sadar yang akan menghalangi upaya tersebut. Tapi sekali anda dapat mengatasi pikiran bawah sadar terkait rokok ini, bonusnya anda dapat mengatasi sejumlah problim lain yang berasal dari hal yang sama ini.

Bagaimana, anda siap berhenti ? Silahkan coba teori / metoda yang telah saya gunakan tersebut, yang memang bagi saya sangat ampuh untuk mengatasi kebiasaan yang unik tersebut [eb].

Ciputat Timur 1 Juni 2010

E. Buchari


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Free Delivery
image

Rahasia Kecantikan Wajah Anda



Space Ads
image

 

 

Space Ads
image

 

image

Space Iklan

 

 

 

 

 

 

 

 



 



 

 

 

 

 



 


 

 

 

 



 

 


SLINK
Copyright © 2018 Thebudivideo · All Rights Reserved