I love my Daddy to Stop Smoking MEROKOK MEMBUNUHMU
Menu Utama
Artikel Terbaru
Komentar Terbaru
Buku Tamu




 

 

Donate
image

 

 

 


FREE MEMBER
image

 

  
 
Your Name:
Your E-Mail:
Address:
City:
State:
Zip:
Country:
Where did you hear about us?
 

Nama :



Email:




 

 

Silahkan isi Nama dan Email Anda, selanjutnya Anda akan menerima Tips-Tips Unik Berhenti Merokok secara Gratis

 















 

 











 

Kampung Dingin Bebas Nikotin

image

M atahari bersinar terik siang itu. Namun, bukannya gerah, udara di Desa Bonebone, Kecamatan Baraka, malah terasa dingin. Maklum, desa tersebut memang berada di dataran tinggi, sekitar 1.300 meter di atas permukaan laut.


Lokasi Bonebone sekitar 80 kilometer dari ibu kota Kabupaten Enrekang. Jalur transportasi ke sana belum lancar. Hanya motor dan mobil dobel gardan yang bisa mencapai desa di bawah puncak Gunung Latimojong tersebut.


Namun, kondisi alam sepanjang perjalanan menunju Bonebone sangat indah. Hamparan sawah dan gugus pegunungan ibarat permadani hijau yang menyejukkan pandangan. Sebagian besar penduduk di sana memang petani.


Bonebone awalnya hanya merupakan salah satu dusun di Desa Pepandingan. Namun, seiring perkembangan penduduk, warga bertekad membentuk wilayah administrasi tersendiri. Karena itu, dusun tersebut dimekarkan menjadi desa.


Sepintas, warga desa itu tak berbeda dari warga desa-desa lain di Sulsel. Yang tak biasa, mereka punya tradisi unik. Sebab, desa berpenduduk 791 jiwa tersebut sangat peduli lingkungan. Warga yang akan melangsungkan pernikahan diwajibkan menanam minimal lima batang pohon.


Selain itu, penduduk Bonebone tidak menerima produk dari luar yang dikhawatirkan membawa penyakit. Misalnya, ayam potong dan telur ayam ras yang dikhawatirkan membawa flu burung. Namun, yang paling membuat desa itu menjadi perhatian adalah semua warga desa di sana sepakat untuk tidak mengisap rokok.


Fenomena itulah yang membuat Kabupaten Enrekang meraih penghargaan kategori unik pada penganugerahan Otonomi Award yang diadakan harian Fajar (Jawa Pos Group), The Fajar Institute of Pro-Otonomi.


Larangan merokok tersebut tidak diatur secara tertulis. Tidak ada pula peraturan desa atau perdes. Semua hanya kesepakatan lisan antar sesama warga desa.


Meski begitu, kesepakatan lisan itu sangat ampuh dan sangat dihargai tokoh adat, pemuka masyarakat, serta warga umum. ''Aturan bebas rokok itu kami jalankan sejak 2000,'' ujar Kepala Desa Bonebone Drs Idris.


Ide menjadikan Bonebone sebagai desa bebas asap rokok berawal dari pemikiran Idris. Saat itu, dia masih menjabat kepala Dusun Bonebone. Idris mengaku melontarkan ide itu lantaran prihatin melihat kondisi penduduk desa yang ''diperbudak'' rokok.


' 'Saat itu, rata-rata penduduk desa merokok sejak kecil. Bahkan, murid kelas 2 SD pun sudah merokok. Orang tua mereka tidak melarang dengan alasan kondisi kampung memang dingin dan cocok untuk merokok,'' ungkapnya.


Ironisnya, kata dia, anak-anak Bonebone sulit melanjutkan pendidikan ke tingkat SMA, apalagi perguruan tinggi, dengan alasan keterbatasan biaya. ''Kan aneh. Mereka mampu beli rokok tiap hari, tapi tidak punya uang untuk menyekolahkan anak,'' tegasnya.


Pada 1998, Hanaki, perempuan warga Bonebone, divonis dokter menderita kanker paru-paru karena rokok. Momen itu dimanfaatkan Idris untuk mengumpulkan tokoh masyarakat dan pemuka adat desa untuk menggagas desa bebas rokok.


''Alasan utama yang saya sampaikan kepada tokoh masyarakat, selain menimbulkan penyakit, rokok membuat masyarakat makin miskin dan desa mereka tidak maju-maju. Saya bersyukur gagasan itu direspons positif oleh tokoh masyarakat,'' ujarnya.


Esoknya, semua pemuka adat yang hadir dalam pertemuan malam itu langsung menyosialisasikan kesepakatan tersebut kepada seluruh warga desa. Mereka juga mengumumkan melalui masjid.


Awalnya, kesepakatan tersebut ditentang warga, khususnya pemuda dan pemilik kios rokok. Namun, pelan-pelan kesepakatan itu mulai diterima. ' 'Pada 2001, kesepakatan itu mulai membuahkan hasil. Ekonomi masyarakat mulai maju. Anak-anak sekolah mulai bisa beli buku, bahkan mulai banyak yang kuliah. Kesehatan warga juga membaik,'' terangnya.


Sejak 2001 itu, seluruh warga Bonebone menerapkan kesepakatan bebas asap rokok tersebut. Bahkan, tamu pun dikenai aturan itu. Tamu yang ingin merokok diharuskan keluar desa dulu dan baru bisa kembali setelah menghabiskan rokoknya. ''Pokoknya, tidak ada tempat bagi perokok di sini,'' tegas Haris, salah seorang guru di SDN 159 Bonebone.


Ditanya adakah sanksi bagi warga yang kedapatan mengisap rokok, Haris menyatakan tidak ada. Bahkan, sebuah papan iklan di pintu gerbang desa berukuran cukup besar berkomunikasi dengan bahasa yang santun: ''Nikmati Indahnya Pemandangan dan Segarnya Udara Dusun Kami. Terima Kasih Anda Tidak Merokok dalam Wilayah Bonebone.''


''Meski begitu, masyarakat sudah menganggap merokok tabu,'' kata Idris.


Menariknya, bupati Enrekang sekarang, La Tinro La Tunrung, sebelumnya justru dikenal sebagai perokok. Karena itu, saat tampil di Hotel Sahid Makassar, 1 Juni lalu, untuk menerima Otonomi Award karena ada desa di kabupatennya yang menerapkan kawasan tanpa rokok, beberapa koleganya berbisik-bisik. ''Tidak, saya sudah berhenti merokok,'' ujarnya saat turun dari panggung kemudian tersenyum.

 


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Free Delivery
image

Rahasia Kecantikan Wajah Anda



Space Ads
image

 

 

Space Ads
image

 

image

Space Iklan

 

 

 

 

 

 

 

 



 



 

 

 

 

 



 


 

 

 

 



 

 


SLINK
Copyright © 2018 Thebudivideo · All Rights Reserved